Fakta Dibalik Lepasnya Timor Timur


east-timor

Satu hal yang mungkin masih kita kenang dari kepemimpinan Presiden RI ke-3 yaitu Baharudin Jusuf Habibie adalah lepasnya Timor Timur dari pelukan bumi tercinta melalui jajak pendapat yang melibatkan masyarakatnya. Hal tersebut menimbulkan sentimen negatif dari masyarakat awam, nada sumbang bergeliat “bagaimana jika beliau terus jadi Presiden Indonesia, berapa pulau lagi yang akan lepas dari Indonesia?”. Oleh karena itu, maka banyak yang menilai bahwa tidak semua orang pintar pantas memimpin negara, Bapak Teknologi ini tidak cocok sebagai Presiden.

Dibalik semua pandangan negative yang timbul, alasan-alasan merdekanya Timor Timur perlu dikaji kembali. Sedikit flashback ketika momen Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945, ketika itu pemuda pemudi dari berbagai suku, agama dan bahasa berikrar serta menyatukan semangat agar bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan colonial Belanda. Akan tetapi, perwakilan pemuda dari Timor Timur nyatanya tidak bersama-sama berikrar pada dua momen bersejarah itu.

“Sesungguhnya Timor Timur begabung dengan bangsa Indonesia tidak bersama-sama kita baik ketika ikrar sumpah pemuda tahun 1928, maupun saat proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945. Timor Timur pada waktu itu tidak berada bersama-sama dengan saudara-saudara kita lainnya yang berikrar dan menyatakan kemerdekaan Indonesia” (B.J Habibie, 2008)

Pandangannya jelas, Indonesia dianggap tidak mau terus menerus diganggu oleh sengketa Timor Timur. Ada permasalahan lebih penting dihadapi yaitu mengenai peradaban Indonesia yang berkualitas tinggi, sejahtera dan adil. Sesuatu yang tidak dibenarkan untuk mengorbankan nilai sumpah pemuda demi kepentingan pihak yang tidak commited terhadap sumpah pemuda itu sendiri. Oleh karena itu, Presiden Habibie mengambil sebuah keputusan untuk memberikan kesempatan kepada rakyat Timor Timur sendiri untuk menentukan apa yang dikehendakinya.

Perlu diketahui bahwa B.J Habibie bukanlah orang baru yang berkecimpung di Pemerintahan, beliau terlibat sejak tahun 1974 yaitu tepat setelah 4 tahun penjajah Portugal meninggalkan Timor Timur yaitu tahun 1970-an. Tentu pengambilan keputusan referendum bagi rakyat Timor Timur itu melalui sebuah pemikiran yang matang, tanpa mengorbankan jasa para prajurit TNI, Polri dan segenap sukarelawan yang berjuang dalam operasi seroja.

“Jika mereka mau bergabung melaksanakan pembangungan, monggo, akan tetapi, jangan neko-neko, harus sama dengan yang lain. Tetapi, jika tidak mau dan berkeberatan, boleh silakan berpisah seperti kawan, tidak perlu ribut, karena bangsa ini perlu konsentrasi menentukan masa depannya sendiri”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di BUDAYA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s