HARUSKAH AGAMA HANYA 6 ?


Menyikapi agama memang tidak mudah. Baik itu agama ditinjau dari sisi teologi maupun sosiologis. Namun tidak ada salahnya nalar bisa kita gunakan untuk meninjaunya.

Agama, seperti kita ketahui bersama berasal dari bahasa sansekerta yang berarti a = tidak dan gama = kocar -kacir. Ya, bisa kita simpulkan agama itu jalan atau cara untuk membuat hidup manusia tidak kacau dan tanpa arah, agama apapun itu. Seperangkat aturan terdapat di setiap agama. Baik itu larangan maupun anjuran pasti dimiliki setiap agama . Jika kita perhatikan etimologis agama, cukuplah pengertian kocar – kacir itu bisa meliputi apa saja tanpa kandungan spiritualnya. Bisa sebuah organisasi, perkumpulan, atau partai politik.. Yang penting terdapat semacam aturan pengikat yang membuat pengikutnya tidak kocar – kacir.

Tapi, kemudian di dalam dunia ini timbul apa yang disebut agama spiritual. Dimana sudah dikenal adanya Tenaga Supranatural baik berupa roh maupun fisik, transenden maupun insenden. Untuk menghormatiNya, diadakan ibadah -ibadah yang cukup rutin dan teratur. Disamping itu dibuat pula persembahan – persembahan agar Sang Pencipta itu tidak marah.

Dari sinilah kemudian berkembang hingga sekarang apa yang disebut agama bumi dan agama samawi (wahyu). Sebenarnya istilah ini kurang tepat. Istilah ini merupakan sudut pandang mereka yang menyebut agama mereka sebagai agama samawi yang bersumber dari langit. Sedangkan agama bumi lahir dari budaya manusia di bumi. Istilah yag lebih adil adalah agama timur dan agama barat karena kesamaan – kesamaannya yang lebih dominan. Agama barat adalah agama yang lahir di Asia Barat yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Sedangkan agama timur adalah agama yang lahir di Asia Timur/Selatan yaitu Hindu, Budha ,konghucu, Sinto,dll Disamping yang disebutkan sebelumnya, terdapat agama – agama lain yang lebih kecil semisal Zoroaster, shabi’in ,dll.

Agama – agama ini lalu masuk dan berkembang di Indonesia sesuai dengan semangat missioner. Pertama – tama Agama Hindu,lalu kemudian Budha. Perkembangan agama – agama ini ditandai dengan pendirian kerajaan – kerajaan. Mungkin bisa dimaklumi karena agama – agama ini membawa ilmu pengetahuan dan politik sehingga kerajaan yang mereka dirikan bisa terdokumentasikan dalam tulisan di prasasti. Bukan berarti sebelum kedatangan agama ini bangsa Indonesia saat itu belum mampu mendirikan kerajaan.

Islampun masuk juga. Melalui pedagang – pedagang yang memiliki semangat dakwah, mereka menyebarkan agam islam di setiap pelabuhan – pelabuhan yang mereka singgahi. Penyebaran bisa berupa berdakwah secara langsung maupun melalui pernikahan. Jadilah Islam tersebar terutama di daerah pesisir. Kemudian komunitas ini berkembang pesat sehingga mereka mendirikan kerajaan ( kesultanan). Lahirlah kerajaan samudara pasai di pantai utara aceh. Tidak hanya di sumatera , di jawapun islam tersebar dengan pola yang hampir serupa terutama melalui para walisongo.

Agama Kristen masuk dengan semangat 3G (Gospel, Gold dan Glory) di Eropa. Pertama – tama misionaris Jesuit yang terkenal fransiscus xaverius masuk ke Maluku di Ternate. Disini kemudian lahir komunitas katolik di tengah komunitas muslim yang lebih dahulu eksis. Penjajahan belanda kemudian ikut andil dalam penyebaran Agam Kristen, tentu dengan pengaruh kekuasaannya.

Disamping agama -agama di atas, Konghucupun telah hadir di tanah air besamaan dengan datangnya agama Islam dan Kristen. Bedanya, Agama Konghucu tidak disebarkan ke penduduk pribumi, tapi hanya menjadi agama eksklusif orang tionghoa.

Kesemua pemeluk agama di atas sekarang (mudah – mudahan) bias hidup berdampingan secara damai di bumi Indonesia. Walau terdapat beberapa gesekan yang membawa identitas agama, namun itu tak lebih akibat faktor ekonomi, politik bukan teologi. Keenam agama ini diakui secara remi oleh pemerintah.

Namun kita mungkin tidak menyadari bahwa semua agama tersebut adalah agama impor. Artinya dari sudut pandang geografis kelahiran agama tersebut bukanlah di wilayah yang terbentang dari sabang sampai merauke. Tapi dari luar. Entah di Palestina, Arab Saudi, India maupun Cina. Semuanya membawa semangat asal – usulnya. Padahal agama “asli” penduduk Indonesia sampai sekarang masih ada yang eksis walau dengan jumlah yang lebih kecil. Misalnya di Tanah Batak ada yang disebut parmalim, di Kalimantan ada kaharingan, di Jawa ada Kejawen ,dll. Walaupun terdapat pengaruh agama impor dalam ajarannya, tapi mereka membawa semangat tradisionalisme Indonesia. Mereka seharusnya pantas mendapat tempat sebagai agama sendiri.

Tapi, kita sudah menjadi fanatik terhadap agama impor yang kita anut. Kita bahkan hanya menempatkan mereka(agama asli) sebatas kepercayaan, bukan agama. Kita mendefinisikan pengertian agama sesuai dengan agama kita. Sehingga mereka tidak termasuk di dalamnya. Harus ada kitab sucilah, harus ada nabilah, dan harus percaya pada hari akhir. Padahal merekalah agama nenek moyang kita. Apa salahnya mereka diakui di “negeri” mereka sendiri.

Pancasila, Dasar Negara kita Sebenarnya mengakui keberadaan mereka. Sila ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan hal itu. Ketuhanan yang Maha Esa sesuai dengan yang kita yakini. Bukan hanya Ketuhanan yang Maha Esanya Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Tapi ketuhanan yang Maha Esa semuanya , termasuk agama asli Indonesia. Mereka punya cara perkawinan sendiri, penguburan sendiri atau pemimpin agama sendiri serta hari raya sendiri. Alangkah bahagianya bagi mereka bila upacara – upacara itu dapat terlaksana tanpa harus berpura – pura sebagai Islam, Kristen, Hindu,dll.

Dengan dasar ini seharusnya tidak ada lagi agama – agama resmian. Semuanya harus diakui. Tidak hanya 6. Negara Indonesia untuk semua!

Tentang chomliki

Aku adalah manusia yang bernafas demi meneruskan sisa kehidupan dan hanya menunggu saat-saat kematian. Hidupku adalah akar yang menjalar, menjelajah kesegenap tujuan, walau payah walau susah walau yang datang hanyalah setitis air jernih yang bakal menyinari hidup yang hanya sebentar ini Aku adalah insan yang punya hati dan perasaan. Aku ingin berkasih seperti insan lain yang berkasih. Hatiku ini sering menangis karena skenario hidupku di dunia yang penuh dgn fatamorgana. Aku seperti jiwa yg hilang berdiri diantara pilar keterasingan lupa diri akan kenistaan bimbing dan ampuni aku Robb Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyadari kebodohanku itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku. Berusahalah dengan ikhlas tanpa memikirkan balasan semata-mata, kerana semakin tinggi keikhlasan di dalam diri, semakin tinggilah balasan baik yang akan diperolehi dalam keadaan sadar atau tidak Hidup ibarat matematika yaitu tambah, kurang, kali dan bagi. amalan yang baik hendaklah ditambahkan, segala perbuatan yang buruk dan dimurkai oleh Allah hendaklah ditolak atau dijauhkan, pahala amalan hendaklah digandakan dan masa yang ada hendaklah dibagikan dengan sempurna agar kita tidak tergolong dlm golongan mereka yang rugi hidup di dunia & akhirat. Renung fikiranmu, ia menjadi kata-kata; Renung kata-katamu, ia menjadi perbuatan; Renung perbuatanmu, ia menjadi amalan; Renung amalanmu, ia adalah sifat dirimu.
Pos ini dipublikasikan di BUDAYA dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s