AYAM DULU ATAU TELUR DULU ?


https://i0.wp.com/stat.kompasiana.com/files/2010/07/31642_1455440635222_1509515005_1134946_4853081_n1.jpg

Ayam dulu ? atau telur dulu ? Sebagian percaya, ayam duluan, karena ayam bertelur. Sebagian lainnya yakin, telur dulu, karena telur menetas jadi ayam. Menurut Plato, sebelum ayam dan telur ada “ide” ayam dan telur. Ayam mesti duluan ada dari telur, karena dalam ide ayam terkandung ide telur. Sedang dalam ide telur, tidak serta-merta ide ayam mengikuti, bisa jadi telur yang dimaksud adalah telur bebek. Menurut Aristoteles, ayam adalah sebab dari telur, dan karenanya ayam lebih dulu dari telur. Sebab mesti lebih utama dari akibat. Ayam mampu melindungi dan mencukupi dirinya sendiri. Sementara telur butuh induk ayam untuk mengeraminya. Mustahil telur lebih dulu dari ayam, sebaimana mustahil akibat mendahului sebab. Saya sendiri belum yakin pada jawaban Plato dan Aristoteles…dan berharap suatu hari mampu membuktikan telur lebih dulu dari ayam… Tapi setidaknya jawaban ini lebih baik dari jawaban sang Budha…telur adalah ayam dan ayam adalah telur…isi adalah kosong dan kosong adalah isi…nah lho ? (tulisan ini bukan murni pendapat plato aristo dan budha…tapi tafsiran saya…mohon dibetulkan jika salah…

Tentang chomliki

Aku adalah manusia yang bernafas demi meneruskan sisa kehidupan dan hanya menunggu saat-saat kematian. Hidupku adalah akar yang menjalar, menjelajah kesegenap tujuan, walau payah walau susah walau yang datang hanyalah setitis air jernih yang bakal menyinari hidup yang hanya sebentar ini Aku adalah insan yang punya hati dan perasaan. Aku ingin berkasih seperti insan lain yang berkasih. Hatiku ini sering menangis karena skenario hidupku di dunia yang penuh dgn fatamorgana. Aku seperti jiwa yg hilang berdiri diantara pilar keterasingan lupa diri akan kenistaan bimbing dan ampuni aku Robb Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyadari kebodohanku itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku. Berusahalah dengan ikhlas tanpa memikirkan balasan semata-mata, kerana semakin tinggi keikhlasan di dalam diri, semakin tinggilah balasan baik yang akan diperolehi dalam keadaan sadar atau tidak Hidup ibarat matematika yaitu tambah, kurang, kali dan bagi. amalan yang baik hendaklah ditambahkan, segala perbuatan yang buruk dan dimurkai oleh Allah hendaklah ditolak atau dijauhkan, pahala amalan hendaklah digandakan dan masa yang ada hendaklah dibagikan dengan sempurna agar kita tidak tergolong dlm golongan mereka yang rugi hidup di dunia & akhirat. Renung fikiranmu, ia menjadi kata-kata; Renung kata-katamu, ia menjadi perbuatan; Renung perbuatanmu, ia menjadi amalan; Renung amalanmu, ia adalah sifat dirimu.
Pos ini dipublikasikan di BUDAYA dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s